PENGANTAR

Dewan Kerajinan Dunia, World Craft Council (WCC) telah menobatkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia pada tanggal 18 Oktober 2014, di kota Dongyang, Tiongkok. Yogyakarta dinilai telah memenuhi 7 kriteria dengan baik (nilai historis, orisinalitas, regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional dan mempunyai persebaran luas).

Perolehan gelar tersebut di atas tentu patut disyukuri, sekaligus melahirkan kewajiban nyata bagi DI. Yogyakarta untuk selalu menjaga dan menumbuhkembangkan secara menerus ke-7 kriteria di atas, juga menunjukkan kepada masyarakat Indonesia maupun khalayak dunia bahwa predikat itu memang “pantas” disandang.

Untuk tujuan itu maka akan dilaksanakan kegiatan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016 yang puncaknya akan berlangsung pada tanggal 12-16 Oktober 2016 di Yogyakarta, yang bertujuan selain memberikan kontribusi bagi pengembangan batik di Indonesia, juga sebuah kesempatan untuk mengangkat tradisi batik di tingkat dunia.

Yogyakarta, 20 Juni 2016

Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec

Ketua Umum Panitia Pelaksana

SAMBUTAN-SAMBUTAN

Sambutan Ketua Dekranasda D.I. Yogyakarta

Assalamu'alaikum Wr.Wb. Jogja Kota Batik Dunia, sebuah predikat dan prestasi prestisius yang telah diperoleh Daerah Istimewa Yogyakarta dari World Crafts Council (WCC) - Wilayah Regional Asia Pasifik, sebuah lembaga swasembada bertaraf internasional yang berafiliasi dengan UNESCO dan memfokuskan pada peningkatan apresiasi terhadap berbagai kegiatan dan permasalahan Komunitas Kriya di dunia. Yogyakarta memiliki beragam keistimewaan yang telah diakui masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Sebagai kota yang memiliki sejarah budaya dengan nilai luhur yang tetap lestari hingga saat ini, saya kira sebanding bila disejajarkan dengan kota-kota bersejarah di dunia lainnya. Salah satunya terbukti pada saat penganugerahan Yogyakarta sebagai World Batik City, dinobatkan pula Kota Dongyang - China sebagai World City of Wood Carving dan Kota Donique - Chili sebagai World City of Chamantos.

Jogja International Batik Biennale 2016 yang akan diselenggarakan pada 12-16 Oktober 2016 di Yogyakarta merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kita bersama atas gelar Yogyakarta World Batik City. Sebuah event internasional yang akan dihadiri oleh peserta dari berbagai penjuru dunia yang mengadakan berbagai diskusi, fashion show, pameran, karnaval dan kunjungan seni tentang batik khususnya dan seni kerajinan pada umumnya. Event ini diharapkan membuka mata dunia bahwa Indonesia memiliki potensi budaya, seni dan ekonomi dan juga tingkat pendidikan yang setara dengan negara maju lainnya.

Dengan Yogyakarta dapat merepresentasikan sebagai Kota Batik Dunia, maka seIuruh Batik Indonesia akan memperoleh manfaat, karena Yogyakarta dianggap sebagai anak sulung yang telah membuka pintu bagi kerajinan Batik Indonesia di mata dunia. Saya sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah - Daerah Istimewa Yogyakarta, menghimbau kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan sepenuhnya pada penyelenggaraan Jogja International Batik Biennale 2016.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, 20 Juni 2016

Gusti Kanjeng Ratu Hemas

Sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

 

JIBB 2016 selain sebagai selebrasi apresiatif atas penghargaan “Yogya Kota Batik Dunia” oleh World Craft Council pada 18 Oktober 2014 di Dongyang, China, hendaknya juga dijadikan fora check and re-check komitmen masyarakat batik atas penetapan batik sebagai Representasi Budaya Warisan Manusia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

Menurut sebuah riset, tren fesyen era masakini berakar pada konsep “Traditional Revolution” yang menawarkan banyak cara untuk mengaktualkan sentuhan etnik pada gaya busana, seperti lewat materi bahan, corak, modifikasi busana tradisional, hingga variasi potongan yang menyinkronkan kekhasan ciptaan etnis dan modern. Bila kita amati lebih jeli, para perancang dari berbagai penjuru benua menggunakan warna etnik seolah menjadi sumber energi yang tak pernah habis.

Hasil riset itu sejalan dengan tema JIBB 2016: “Traditions for Innovations”. Tema ini menyiratkan pesan dalam ungkapan: “lintas batas” yang mengimajinasikan dunia batik menjadi bagian dari gagasan: “the Borderless World”. Sebagai ‘produk inovasi’, rancangan batik dituntut untuk mampu menerobos fashion style dunia. Dan, sebagai ‘produk tradisi’, harus tetap mengekspresikan identitas bangsa yang bersifat unik dan otentik, bahkan orisinal. Bisa dibayangkan hadirnya desain batik yang menampilkan perpaduan tren mode masakini dengan sentuhan desain yang unik dan khas lokal yang sederhana, lembut, minimalis, ringan, cheerful, bersih, membumi dan alami, dan…yang diminati pasar.

Batik sebagai ikon budaya bangsa memiliki keunikan yang memuat simbol dan filosofi yang dalam mencakup siklus kehidupan manusia. Batik hidup dan tumbuh sebagai bagian dari industri kreatif, yang berpotensi dijadikan sumber ekonomi masyarakat. Batik bukan hanya dianggap sebagai budaya aseli Indonesia, tetapi diakui sebagai representasi dari warisan budaya dunia. Setelah diterimanya kedua pengakuan itu, membawa konsekuensi bahwa Pemerintah dan masyarakat harus secara berkelanjutan melestarikan dan mengembangkan batik sebagai wahana edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat sesuai komitmen yang dinyatakan kepada UNESCO.

Dengan visi dan ilustrasi seperti itulah, saya mengapresiasi gelar kreatif JIBB 2016 ini, dengan harapan lanjut, hendaknya momentum JIBB 2016 ini ditempatkan sebagai titik awal dalam rangkaian kerja besar menghidup-hidupkan batik sebagai bagian dari pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap lembar batik secara berkelanjutan.

Yogyakarta, 1 September 2016

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

HAMENGKU BUWONO X

LATAR BELAKANG

Batik Indonesia merupakan Mahakarya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, seperti yang diakui oleh UNESCO di 2 Oktober 2009. Seperti yang tercantum dalam UNESCO, 2009:

- Batik adalah hasil buatan tangan tradisional kaya akan nilai budaya,   diwariskan dari generasi ke generasi di Jawa dan tempat lain yang dibuat dengan menerapkan titik dan garis lilin panas untuk kain menggunakan pola atau tembaga prangko, seperti menahan tangan-pencelupan kemudian dihapus dengan merebus  atau menggores, mengulangi proses untuk setiap warna.

- Pola Batik dan motif memiliki simbolisme yang mendalam terkait dengan status sosial, masyarakat setempat, alam, sejarah dan warisan budaya

- Batik Indonesia: Teknik, simbolisme dan budaya sekitarnya tangan-dicelup   katun dan sutra pakaian dikenal sebagai Batik Indonesia menembus  kehidupan Indonesia dari awal sampai akhir: bayi dilakukan di sling batik dihiasi dengan simbol-simbol yang dirancang untuk membawa keberuntungan anak, dan mati diselimuti batik penguburan.

Pada tahun 2014, Yogyakarta dinyatakan oleh World Craft Council sebagai World Batik Kota. Batik dari Yogyakarta memenuhi kriteria untuk menjadi World Kerajinan Kota dari nilai historis, orisinalitas, upaya konservasi melalui regenerasi (transgeneration), nilai ekonomi, ramah lingkungan, reputasi internasional, dan konsistensi.

Terletak di dalam Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Yogyakarta dikenal sebagai pusat seni Jawa klasik dan budaya seperti batik, tari kerajaan, tarian rakyat, drama, musik, puisi, banyak jenis kerajinan / seni rakyat dan pertunjukan boneka. Hal ini juga salah satu pusat paling terkenal di Indonesia pendidikan tinggi. Di pusat kota adalah istana Sultan disebut Kraton Yogyakarta, dan lebih kecil istana dipimpin oleh Pakualam X disebut PuroPakualaman tersebut. Sementara kota sprawls segala arah dari Kraton, inti dari kota modern adalah ke utara.

Ada lebih dari 75.000 pembuat kerajinan yang tersebar di desa-desa dan kelurahan di seluruh di Daerah Istimewa Yogyakarta memproduksi segala sesuatu dari gantungan kunci untuk furnitur. Sebagian besar kerajinan, termasuk batik, di Yogyakarta berkaitan dengan pertanian dan kegiatan perempuan yang bekerja di rumah sambil membesarkan anak-anaknya. Dan Batik telah berkembang sejak jaman kuno bahkan sebelum berdirinya candi Borobudur (Kerajaan Mataram Buddha di abad ke-7.

Dalam dibandingkan dengan daerah lain batik di Jawa, batik dari Jogja memiliki langsung koneksi ke asli Mataram batik. Seperti dalam Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Mataram Islam dibagi menjadi 2 (dua) Kingdoms, ada Solo dan Yogyakarta. Berdasarkan naskah "SeratJati Sari", 3 komponen penting dari Kerajaan Islam Mataram harus dibawa ke penguasa Yogyakarta. Ada kebiasaan, pusaka, dan budaya. Ini termasuk motif batik dan gaya. Saat ini, Batik (dilukis tangan dan cap) yang tersebar di wilayah kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Karena prasasti Batik sebagai UNESCO Mahakarya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2009, rasa ingin tahu orang tentang bagaimana disebut tradisi batik meningkat. Selain itu, ketika Yogyakarta dinyatakan sebagai World Batik Kota pertanyaan telah berkembang. Apa yang disebut batik Yogyakarta? Apa yang luar biasa dari Yogyakarta yang membuat Yogyakarta dinyatakan sebagai Kota Dunia Batik? Sementara itu, serta berbagai lainnya dari kesenian rakyat, inovasi dari waktu ke waktu selalu dikembangkan. Pertanyaan dari, bagaimana inovasi batik tanpa mengabaikan tradisi.

Mencerminkan tantangan pembangunan batik di Yogyakarta serta tempat lainnya di Indonesia dan negara-negara lain, tema keseluruhan yang diusulkan dari Simposium Internasional ini. "Batik: Tradisi untuk Inovasi" Sementara itu, OC bermaksud untuk publik berbagi pengetahuan baru dari berbagai pembicara terkenal dan ahli dari simposium ini melalui program Kuliah Umum di berbagai universitas dan lembaga lokal.

 

TUJUAN

  • Mengembangkan jaringan, baik di skala nasional dan internasional, untuk komunitas penggemar, penggemar, dan pecinta batik.

  • Mendorong kerjasama yang lebih erat dari berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara lain di dunia yang membuat dan memproduksi tekstil dengan metode batik.

  • Membangun forum sebagai sarana komunikasi dan diskusi tentang seni batik dan budaya batik warisan berbasis industri dari seluruh dunia.

  • Sebagai sarana bertukar pengalaman dalam hal teknis dan metode pembuatan batik, inovasi dalam pengembangan teknologi pembuatan batik dan strategi pemasarannya.

  • Menemukan solusi untuk masalah jangka panjang dari pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kapasitas pengrajin batik dalam hal mulia mereka dalam batik kerajinan seni pada skala global dan dukungan yang lebih luas oleh industri batik.

HOST

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

ORGANIZERS

Panitia Pelaksana JIBB 2016 berkolaborasi dengan:

 

logjogja

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

logodkn

 Dekranasda Daerah Istimewa Yogyakarta

PANITIA

Based on DECISION OF THE GOVERNOR OF SPECIAL REGION OF YOGYAKARTA  NO.2/PAN/2016
ON THE FORMATION OF THE COMMITTEE OF JOGJA INTERNATIONAL BATIK BIENNALE 2016


PROTECTORS

Governor of Daerah lstimewa Yogyakarta
Deputy Governor of Daerah lstimewa Yogyakarta
General Chairman of Dekranas Pusat
Sri Adiningsih (Chairman of Wastimpres)


ADVISORS

Chairman:  
Prof. Rahadi Ramelan, Yayasan Batik Indonesia
Members:
Dr. Erni Cahyo Kumolo, Dekranas Pusat
Chairman of Kadin DIY
Mayor of Yogyakarta
Mayor of Bantul
Mayor of Kulonprogo
Mayor of Sleman
Mayor of Gunungkidul
Chief of Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta
Edric Ong, World Craft Council (WCC)
Ir. Hesti Indah Kresnarini, Dekranas Pusat
Beni Sutrisno, API Pusat
DR. Ir. Larasati Suliantoro Sulaiman, SekarJagad
Prieyo Pratomo HDII


HONORARY BOARD

Chairman I: GKR Hemas, Chairman of Dekranasda DIY
Chairman II: Keistimewaan Assistant of Setda DIY
Chairman III: Economic and Development Assistant of Setda DIY
Members:
Chief of Disperindag DIY
Chief of Dinas Kebudayaan DIY
Chief of Dinas Pariwisata DIY
Chief of Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY
Chief of Bappeda DIY
Chief of Badan Lingkungan Hidup DIY
Chief of Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY


STEERING COMMITTEE

Chairman I: Herry Zudianto, Ak
Chairman II: Robby Kusumaharta
Members:
GKBRA Adipati Pakualam
Drs. Wahyuntana
Chairman of Dekranasda Kota Yogyakarta
Chairman of Dekranasda Kab. Bantul
Chairman of Dekranasda Kab. Sleman
Chairman of Dekranasda Kab. Kulonprogo
Chairman of Dekranasda Kab. Gunungkidul
Heri Dendi


EXECUTIVE COMMITTEE

General Chairman: Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec.
Chairman I: Ir. Syahbenol Hasibuan, Dekranasda DIY
Chairman II: Zainal Arifin, B.Sc., Dekranasda DIY
Chairman III: Ir. Polin MW Napitupulu, M.Si.
Chairman IV: M. Arief Budiman, P3| DIY
Chairman V: Dr. Ir. Laretna Trisnantari, M.Arch.
Secretary I: Ronni M Guritno, SH., Dekranasda DIY
Secretary II: Drs. Bayu Haryana, M.Si., Disperindag DIY
Treasurer: Ir. Retno Pratiwi, S. Teks., Dekranasda DIY
Public Relation & Media: Drg. Eddy Purjanto
Protocol: Bagian Protokol Pemda DIY & Suryo Baskoro, UGM
Sponsorship: Wawan Harmawan, Kadinda DIY & Iwan Susanto, API DIY
Transportation and Accommodation: Bagus Ardhi Baliantoro, MPI DIY
Documentation: Ir. Benyamin, Agatha Photo
Batik Workshop: Suharyanto, ST, MT, Balai Besar Kerajinan dan Batik DIY
Batik Fashion: Apip Syakur, Sekar Jagad DIY
Batik Competition:
Ninik Darmawan, N-Workshop Jogja
KRT. Thomas Haryonagoro, Ullen Sentalu
Djandjang Purwo Sedjati, ISI Yogyakarta
Carnival: Putu Kertiyasa, Dinas Pariwisata DIY
Exhibition:
Dra. RR. Ani Srimulyani, Disperindag DIY
Budi Virgono, Dekranasda DIY
Satriyo Indarto, JEC
Batik Resources Center: Farida, Dipl. Teks, M.Sc., Balai Besar Kerajinan dan Batik DIY
Dimas/Diajeng Batik: Lia Mustafa, IFC DIY & Indah Rahayu Murnihati, SE., Dekranasda DIY
Gala Dinner: Edi Setijono, PT. Taman Borobudur-Prambanan
WCC Meeting: Rahadi Saptata Abra, Kadin DIY