Yogyakarta – Setelah mendeklarasikan diri sebagai Kampung Wisata Budaya, masyarakat Kampung Langenastran Yogyakarta, mewujudkan spirit kebersamaan dalam berkebudayaan dengan menggelar “Batik & Batok Night”, sebuah respons dari digelarnya perhelatan Jogja International Batik Biennale (JIBB).

Menurut ketua penyelenggara, KRT Radya Wisraya Sumartoyo, Kampung Langenastran Yogyakarta menyimpan berbagai potensi yang mampu mendukung status Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Karena itu, gelaran wisata budaya di kampung itu, menjadi salah satu cara mempertahankan predikat Yogya sebagai Kota Batik Dunia sekaligus Kota Budaya.

“Di kampung ini masih banyak pembatik dan kolektor batik kuno. Karena itulah malam ini, selain gelar budaya, kami juga menyajikan pameran Batik,” ujarnya di Yogyakarta, Sabtu (15/10) malam.


Acara itu dibuka oleh Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu (GKBRAy) Paku Alam, dilanjutkan pertunjukan tarian Gemu Fa Mi Re, sebuah tarian yang berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, oleh para penari asal Yogyakarta. Tarian itu memberi pesan bahwa Kota Yogyakarta bukan hanya milik masyarakat asli, namun juga menjadi rumah kedua bagi pendatang. Dalam acara it ditampilkan ratusan koleksi batik kuno termasuk milik pribadi putri Sri Sultan Hamengku Buwono IX, GBRAy Murdakusuma.

Tampak hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan mantan Wakasad Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakri.

“Batik & Batok Night” merupakan kegiatan pertama dari acara bulanan menyusul deklarasi Langenastran sebagai Kampung
Wisata Budaya Yogyakarta oleh sesepuh masyarakat setempat pada awal September lalu. Dan setiap gelaran acara, lanjut Sumartoyo, melibatkan warga daerah luar Yogyakarta.

Sementara itu, menurut GKBRAy Paku Alam, masyarakat Yogyakarta memang memiliki beragam budaya. Selain budaya yang sudah ada secara turun-temurun terutama kepandaian membatik, di era globalisasi ini, warga Yogyakarta terbukti masih tetap mampu mempertahankan kebudayaan leluhur.

“Saya mengapresiasi ide masyarakat Langenastran ini, karena itu saya tidak segan-segan meminjamkan batik-batik milik keluarga Puro Pakualam sekaligus karya-karya saya pribadi dalam acara ini,” ujarnya.

Istri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X ini pun mengharapkan terjadinya rutinitas gelaran kebudayaan yang mampu menopang Yogyakarta sebagai destinasi wisata budaya.

Purnomo Yusgiantoro juga mengapresiasi kegiatan dilakukan yang dilakukan masyarakat Langenastran. Menurutnya, semangat berkebudayaan tersebut harus menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lain. (Fuska Sani Evani/AB)

sumber: beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *