TEMPO.CO, Yogyakarta – Menurut desainer sekaligus perajin batik Yogyakarta, Afif Syakur, “Asal-muasal budaya batik belum jelas,” kata dia ditemui di pameran Jogja International Batik Biennale 2016 di Jogja Expo Center, Bantul, Kamis pekan lalu, Afif menerangkan hanya sebuah dokumen tentang batik yang diistilahkan dengan serat batik ditemukan di keraton. Dari dokumen tersebut, diperkirakan batik berkembang dari dalam keraton. Di masa lalu, tak hanya harus pandai menari, anak-anak raja juga harus bisa membatik.

Pada awalnya, pengguna batik terbatas pada keluarga keraton. Lama-kelamaan, orang-orang kaya di luar keraton yang didominasi kaum pedagang pun ingin mengenakan batik. Dengan begitu, motif batik berkembang di luar tembok keraton, yang dikenal dengan istilah batik sudagaran. Meski motifnya terus berkembang, ada sejumlah motif yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarganya yang diistilahkan dengan batik larangan.


Misalnya, batik motif kawung yang berwujud empat elips berimpitan pada salah satu ujungnya dan membentuk bunga. Filosofi motif ini adalah harapan agar manusia ingat asal-usulnya. Motif huk yang merupakan embrio burung bouraq melambangkan rahasia Tuhan. Tidak seorang pun mengetahui rahasia Tuhan kecuali wakilnya di dunia, yaitu raja dan putra mahkota.

Motif parang mengandung harapan agar pemakainya tak mudah putus asa. Hal itu ditandai dengan citraan miring yang saling menyambung dan tidak putus. Semakin besar motif parangnya semakin tinggi jabatan kebangsawanannya. Sedangkan motif semen terdiri atas beberapa motif yang menggambarkan kesempurnaan hidup. Biasanya dikenakan oleh raja dan anak-anaknya.

Aturan penggunaan batik larangan menjadi sangat longgar ketika Hamengku Buwono IX bertakhta. Para tamu dari luar keraton yang hadir dalam hajatan keraton tak dipersoalkan jika mengenakan motif larangan.

“Aturan itu hanya berlaku untuk keluarga keraton dan panitia. Untuk tamu luar tidak diperhatikan,” kata Mari.

Seiring dengan kelahiran batik sudagaran, motif batik di keraton pun berevolusi. Dalam satu kain tak hanya digambarkan satu motif, melainkan diselingi dengan motif lain tanpa menghilangkan filosofi dan peruntukannya. Contohnya ialah motif kawung diselingi ceplok keong. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

sumber: tempo.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *