Bulan Oktober memang bulannya Batik. Beragam event dibuat bernafaskan batik. Batik merupakan kebudayaan Indonesia yang telah dijadikan warisan budaya dunia. Pada 2 Oktober lalu, kita semua telah memperingati Hari Batik Sedunia, namun pada tanggal 12-16 Oktober 2016 ini ada pameran batik yang menyita masyarakat Jogjakarta. JIBB (Jogja International Batik Biennale) 2016 adalah nama event tersebut. Berlokasi di JEC, event ini menampilkan beberapa koleksi batik, sejarahnya serta mengumpulkan beberapa pegiat dan pecinta batik dalam satu pameran.

Saya berkesempatan untuk datang dihari keempat pameran tersebut, seluruh gedung disulap bernuansa batik. Puluhan kain batik dipampang disebelah pintu masuk. Sangat megah ! Ketika memasuki pameran, kita disuguhi bentangan kain-kain, dan ada beberapa stand penggiat batik yang mendapatkan prestasi Rekor MURI. Salah satu stand yang mendapatkan penghargaan itu adalah dari SMA Stella Duce 1, mereka mendapatkan penghargaan MURI dikarenakan mereka membuat dan memakai batik mereka sendiri, dan mereka adalah pionir dalam hal itu. Satu stand lagi yang mendapatkan Rekor Muri adalah stand dengan pembuatan Batik Indigo terbanyak. Saya sendiri, kurang familiar dengan Batik Indigo, tetapi batik tersebut sangat unik pewarnaannya, dan juga tetap indah seperti batik-batik lainnya.


Berbicara tentang batik, tidak lengkap kalau kita tidak mengetahui asal kata nya. Menurut Manu J. Widyaseputra, Batik berasal dari kata “Tika” yaitu lukisan suci dengan media kelopak bunga pandan, bernama Pudak. banyak ditemukan di pantai-pantai yang gelombangnya besar. Kata kerja ditambah awalan Pa. Awal yang memberi perintah. Pa-Tika = Menggambarlah. Di wilayah Jawa bagian Timur dan Tengah pengucapan Pa berunbah menjadi Ba-Tika, kemudian dari kata kerja menjadi kata benda dengan meninggalkan akhiran “a” menjadi Batik. Yogyakarta ditetapkan sebagai “The World Craft City of Batik” pada tanggal 18 Oktober 2014 oleh World Craft Council. Alasan mengapa Jogja ditetapkan sebagai kota batik dunia adalah karena pada dasarnya kualitas karya tradisi batik tidak dapat dipisahkan dari kualitas ruang alam dan budaya yang melingkupinya. Jogja dengan keadaan alam dan budaya yang istimewa berpengaruh atas terciptanya karya batik yang istmewa pula. Ada 7 nilai yang membuat Batik Jogja unggul di mata dunia, yaitu :

1. Nilai Historis
Jogjakarta adalah sebuah kerajaan yang akhirnya menjadi bagian dari NKRI, memiliki sejarah panjang dan mengakar baik dalam suatu ruang kehidupan maupun peradabannya. Perjalanan sejarah Batik Jogjakarta tidak terlepaskaan dari sejarah wilayahnya dan memiliki peran penting dalam mempengaruhi tumbuh kembang Batik Jawa.

2. Nilai
Keaslian (Otentik) Jogja menjaga keaslian batik yang sarat dengan kearifan lokalnya, ditunjukkan alam tradisi dan budaya pembatikan maupun penggunaannya. Pembatikan dilakukan melalui proses Rintang Warna dengan “malam” secara tulis menggunakan canting dan cap. Motif yang diwujudkan memiliki arti dan simbol kehidupan yang mulia.

3. Nilai Pelestarian
Pembatikan diwariskan dan dikerjakan dari generasi ke generasi. Pelestarian Batik di Jogja tidak hanya bentuk kain jarik atau selendang, namun telah bertransformasi secara inovatif dan kreatif menjadi beragam. Media yang dipakai juga telah bertambah, ada batik kayu, lukisan batik, dsb. Jogja meliliki ribuan pembatik yang inovatif dan kreatif, walaupun begitu mereka tetap melestarikan proses pembuatan batik secara tradisional. Inovasi yang berdasar tradisi.

4. Nilai Ekonomi
Desa-desa di Jogja menjadi sentra batik dan di setiap pasar tersebar area penjualan batik. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri. Batik telah menjadi cinderamata utama bagi para wisatawan. Kesemuanya itu menjadi indikator nilai ekonomi Batik di Jogja.

5. Nilai Ramah Lingkungan
Pada awalnya Batik memang menggunakan pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan. Namun seiring ditemukannya pewarna kimia, banyak pengrajin beralih menggunakan warna kimia. Setelah mengetahui banyak dampak negatif dari pewarnaan kimia, sejak 2 dekade terakhir pewarnaan alami seperti indigo, nila, mahoni, dll. mulai digunakan lagi. Sekarang, JOgjakarta memiliki produksi batik pewarna alam terbesar di Indonesia atau bahkan dunia.

6. Nilai Global
Karya Batik Jogja menarik mata dunia dan menjadi sumber tulisan pihak Internasional. Reputasi internasional Batik Jogja memang telah dirasakan sejak lama. Batik juga memiliki kemampuan dalam menerobos pasar tradisi / modern dunia yang berkelas dan berbagai agenda pameran kebudayaan maupun perdagangan dunia.

7. Nilai Keberlanjutan
Penerusan keahlian membatik di Jogja dilakukan baik dirumah masing-masing maupun di wilayah formal seperti sekolah. Anak anak bisa belajar langsung dari orang tua maupun gurunya terkait keahlian membatik. Keberlangsungan Batik di Jogja juga didukung dengan banyaknya pameran, peragaan busana dan lokakarya.


Saya lalu masuk lebih dalam dan melihat-lihat pameran tersebut. Ada 100 lebih stand berjejer memamerkan batik mereka, semua bagus dan khas. Inovasi motif dan warna yang ditampilkan sangatlah beragam. Saya terus berjalan sampai saya berhenti melihat satu motif batik yang khas, yakni kepunyaan dari Ngayogyakarta Hadinigrat. Motif tersebut bernama Parang Barong. Ternyata ada nilai filosofis dari motif batik ini, Barong berarti sesuatu yang besar. Bidang parangnya sebesar 8cm keatas. Dulunya hanya boleh dipakai oleh seorang raja, motif ini punya arti agar seorang raja/pemimpin harus selalu hati hati agar dapat mengendalikan diri sehingga menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, berwatak dan berperilaku luhur.

Pameran ini benar membuka mata saya tentang warisan budaya kita. Ternyata sebegitu kayanya kita akan budaya dan kita harus menjaganya. Pameran ini juga dibuat dengan sangat baik, penataannya membuat pengunjung sangat nyaman untuk melihat-melihat koleksi batik yang ada.

sumber: kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *